APA DAN BAGAI MANA KOMUNIKASI YANG EFEKTIF (bab 2)

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian komunikasi Interpersonal
a.       Kita dapat memahami makna atau pengertian dari komunikasi interpersonal dengan mudah jika sebelumnya kita sudah memahami makna atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja, komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.
b.      Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok kecil.
c.       Komunikasi Interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Interpersonal
a.       Komunikasi Efektif
b.      Petunjuk Wajah
c.       Kepribadian
d.      Stereotyping
e.       Kesamaan Karakter Personal
f.        Daya Tarik
g.       Ganjaran
h.       Kompetensi
i.         Kelompok Rujukan
j.        Kepopuleran
k.      Kedekatan

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut;

a.       Komunikasi Efektif
Komunikasi  interpersonal  dinyatakan  efektif  bila  pertemuan  antara  pemangku kepentingan  terbangun  dalam  situasi  komunikatif—interaktif  dan menyenangkan. Efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh validitas informasi yang disampaikan dan keterlibatan dalam memformulasikan ide atau gagasan secara bersama. Bila berkumpul dalam  satu  kelompok  yang  memiliki kesamaan pandangan  akan  membuat  gembira, suka dan nyaman. Sebaliknya bila berkumpul dengan orang atau kelompok yang benci akan membuat tegang, resah dan tidak enak.

b.      Petunjuk Wajah
Petunjuk wajah menimbulkan kesan dan persepsi yang sangat menentukan penerimaan individu  atau  kelompok.  Senyuman  yang  dilontarkan  akan menunjukkan  ungkapan bahagia, mata melotot sebagai kemarahan dan seterusnya. Wajah  telah  lama menjadi sumber  informasi  dalam  komunikasi interpersonal. Wajah merupakan  alat  komunikasi yang  sangat  penting  dalam menyampaikan makna  dalam  beberapa  detik  raut  wajah akan menentukan dan menggerakkan  keputusan  yang diambil. Dalam  situasi  tertentu akan  ditemukan cara  tanggapan  yang  beragam  tentang  wajah  yang  ditunjukkan. Kepekaan menangkap emosi wajah sangat menentukan kecermatan tindakan yang akan diambil.

c.       Kepribadian
Kepribadian  sangat   menentukan  bentuk  hubungan  yang  akan  terjalin. Kepribadian mengekspresikan  pengalaman  subjektif     seperti   kebiasaan, karakter   dan  perilaku. Faktor kepribadian  lebih mengarah pada bagaimana tanggapan dan  respon yang akan diberikan  sehingga  terjadi hubungan. Tindakan dan  tanggapan  terhadap pesan  sangat tergantung pada pola hubungan pribadi dan karakteritik atau sifat yang dibawanya.

d.      Stereotyping
Stereotyping merupakan  cara  yang  banyak  ditemukan  dalam menilai  orang lain  yang dinisbatkan  pada  katagorisasi   tertentu.   Cara  pandang  ini kebanyakan  menimbulkan prasangka   dan   gesekan   yang   cukup   kuat, terutama   pada   saat   pihak-pihak   yang berkonflik sulit membuka jalan untuk melakukan perbaikan. Individu atau kelompok akan merespon pengalaman dan lingkungan dengan cara memperlakukan anggota masyarakat secara  berbeda atau cenderung  melakukan  pengelompokan  menurut   jenis  kelamin, cerdas, bodoh, rajin,  atau malas.  Penggunaan  cara  ini untuk menyederhanakan begitu banyak stimuli yang diterimanya. Begitu diri Anda,  individu atau kelompok masyarakat diberi  katagori  akomodatif,  terdidik,  konsisten,  “supel“,  partisipatif,  semua  sifat  yang dikenakan tersebut merupakan pengkatagorian pengalaman untuk memperoleh informasi tambahan dengan segera.


e.       Kesamaan Karakter Personal
Manusia  selalu  berusaha mencapai  konsistensi  dalam  sikap  dan  perilakunya  atau  kita cenderung menyukai orang lain, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita, dan jika menyukai orang, kita ingin memilih sikap mereka yang sama. Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, norma, aturan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tingkat sosial  ekonomi,  budaya,  agama,  ideologis,  cenderung  saling menyukai  dan menerima keberadaan masing-masing.  Bila  percakapan  yang  dilakukan  dengan  rekan  kerja  atau masyarakat  menunjukkan  rasa  senang,   dan  percaya  hal   ini   diakibatkan  kesesuaian terhadap sesuatu yang diketahui atau tidak. Oleh karena itu, perlu ditemukan apa yang menjadi persamaan dan kepentingan yang harus dikomunikasikan.

f.        Daya Tarik
Dalam hukum daya  tarik dapat dijelaskan bahwa cara pandang orang  lain terhadap diri kita akan dibentuk melalui cara berfikir, bahasa dan  tindakan yang khas. Orang pintar, pandai bergaul, ganteng atau cantik akan cenderung ditanggapi dan dinilai dengan cara yang menyenangkan dan dianggap memiliki sifat yang baik. Meskipun apa yang disebut gagah,  cantik  atau pandai bergaul belum disepakati, namun  sebagian  relatif menerima orang  sebagai  pandai  cantik  atau  gagah.  Beberapa  penelitian mengungkapkan  bahwa daya tarik seseorang baik fisik maupun karakter sering menjadi penyebab tanggapan dan penerimaan personal. Orang-orang yang memiliki daya tarik cederung akan disikapi dan diperlakukan lebih baik, sopan dan efektif untuk mempengaruhi pendapat orang lain.

g.       Ganjaran
Seseorang  lebih  menyenangi   orang  lain  yang  memberi   penghargaan  atau ganjaran berupa pujian, bantuan, dorongan moral, Kita akan menyukai orang yang menyukai dan memuji   kita.   Interaksi   sosial   ibaratnya   transaksi   dagang,   dimana   seseorang   akan melanjutkan   interaksi   bila   laba   lebih   banyak   dari   biaya.   Bila   pergaulan   seorang pendamping masyarakat dengan orang-orang disekitarnya sangat menyenangkan, maka akan sangat menguntungkan ditinjau dari keberhasilan program, menguntungkan secara ekonomis, psikologis dan sosial. Berikan ganjaran dan penghargaan yang wajar kepada individu dan kelompok yang berprestasi untuk meningkatkan penerimaan dan partisipasi masyarakat dalam menjalankan program.

h.       Kompetensi
Setiap orang memiliki kecenderungan atau  tertarik kepada orang  lain karena prestasi atau  kemampuan  yang  ditunjukkannya.  Dalam  situasi  ini,  Anda  perlu meningkatkan kemampuan  profesionalnya  atau  menunjukkan  sesuatu  yang  lebih  dari  orang disekitarnya. Demikian  pula, masyarakat  akan  cenderung menanggapi  informasi  dan pesan  dari  orang  berpengalaman,  ahli  dan  profesional  serta  mampu  memberikan kontribusi secara  intelektual, sikap dan mampu memberikan solusi  terhadap masalah yang dihadapi. Dalam situasi krisis, para pihak yang berkonflik membutuhkan bantuan teknis  dan  bimbingan  dari  individu  yang  dipercaya  dan  mampu  menumbuhkan kerjasama untuk mendorong penyelesaian.

Adapun hal-hal yang menunjukkan suatu komunikasi efektif atau tidak, yaitu;
Hukum # 1: Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa ”Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.” Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.

Hukum # 2: Empathy
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand – understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen (consumer’s behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen, maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.
Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media advertising) diperlukan kemampuan untuk mendengar dan menangkap umpan balik dari audiensi atau penerima pesan.

Hukum # 3: Audible
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.

Hukum # 4: Clarity
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.

Hukum # 5: Humble
Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan.n

i.         Kelompok Rujukan
Dalam pergaulan masyarakat,  seorang konsultan, pendamping kepala  rumah tangga, RT/RW, kepala desa, geucik, BPD, dan pekerja akan menjadi anggota organisasi atau kelompok  dimana  di   dalamnya  dapat   mengaktulisasikan dirinya.   Setiap  kelompok memiliki norma, nilai dan aturan main tertentu. Ada kelompok yang secara emosional mengikat diri  kita, dan berpengaruh  terhadap posisi dan peran  kita. Dengan melihat pada  kelompok  yang  telah  diakui kemampuan  dan  profesionalitasnya, maka  orang akan  cenderung merujuk kelompok  itu  untuk menentukan makna  dan  kesan  yang ditanggapinya.

j.        Kepopuleran
Keefektifan  komunikasi  sangat  dipengaruhi  oleh  popularitas  seseorang  baik  sebagai bagian dari  tim maupun karena pengaruhnya dalam suatu kelompok. Fasilitator yang banyak mengambil  peran  dalam  berbagai  aktivitas  dan  banyak  terlibat  dalam  setiap kegiatan masyarakat akan dikenal dan cenderung mudah untuk membuka komunikasi. Seseorang  yang  sering  dikenal   atau  banyak  diberitakan  dan  menjadi   buah  bibir masyarakat  cenderung  disenangi  dan  akan  didekati.  Prinsip  ini  sama  dengan  “Kalau tak kenal, maka  tak  sayang“. Dalam komunikasi personal, makin  sering melihat dan bertemu  dalam  berbagai   kesempatan  masyarakat   akan  cenderung  mengenal   dan tertarik untu menyenanginya.

k.      Kedekatan
Kedekatan  dibangun  atas  dasar  hubungan  yang  bersifat  kekerabatan,  seperti  anak terhadap  orang  tua,  lingkungan  keluarga,  situasi  krisis  yang  dirasakan  bersama  dan kebutuhan.   Kedekatan  yang  telah  dibangun  menjadi   alat   pengungkit   yang  dapat mempengaruhi opini, pola pikir, perilaku, dan sikap tentang suatu tindakan yang perlu diambil  dalam menghadapi  konflik.  Fasilitator  perlu  secara  erat menjalin  kedekatan baik dari sisi kepribadian, kebiasaan, persahabatan, persaudaraan atau hubungan baik dalam  bertetangga  atau  bahkan  tempat  tinggal.  Kedekatan  akan mudah  tumbuh  di antara  orang-orang  yang  berinteraksi   secara  intensif   karena  kekerabatan   secara sosiologi atau psikologis.

0 komentar:

Posting Komentar